Kamis, 06 Juli 2017

Mengapa Orang Yang Berpendidikan Sarjana, Master, dan Doktor Tetap Bisa Kaya

Menjadi orang yang berpendidikan adalah wajib bagi semua orang. Terlebih lagi bagi ummat Islam, berpendidikan (baca : mencari ilmu) adalah salah satu amal mulia. Tidak heran jika ALLAH SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Dalam kehidupan nyata, orang-orang yang memiliki kepandaian terbukti bisa hidup lebih layak sepanjang kepandaian tersebut benar-benar mereka kuasai dan bukan sekedar label semata.

Adalah Imam Syafi'i yang bisa dijadikan contoh dalam berusaha keras mencari ilmu. Berbekal perhiasan ibundanya, beliau rela menempuh perjalanan jauh dari Palestina ke Iraq dan kemudian Tanah Haram untuk mencari ilmu. Dalam satu kisah bahkan beliau tidak berani pulang karena ibundannya melarang pulang sebelum Imam Asy Syafi'i benar-benar mumpuni ilmunya.

Dalam kehidupan modern, orang berpendidikan yang bisa dianggap cendekiawan adalah berdasarkan seberapa tinggi jenjang yang yang sudah ditempuh. Meski jenjang-jenjang tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kecendekiaan seseorang, lazim dalam masyarakat kita menganggap semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin alim pula dia. Komplit lagi jika ditambah dengan keilmuannya dalam bidang agama atau kerja profesionalnya di bidang seni, olah raga, dan bahkan politik.

Sebagai penikmat olah raga sepak bola, saya mengambil contoh beberapa pemain dunia yang ternama dan bermain di klub profesional, namun juga berpendidikan tinggi hingga jenjang master bahkan dengan predikat cum laude. Sebutlah misalnya Giorgio Chielini, bek Juventus FC dan Timnas Italia yang baru saja menggondol gelar master di bidang ekonomi dari Universitas Torino. Atau pemain tenggah klub favorit saya yakni Juan Mata dari Manchester United. Mata ternyata bergelar S2 dalam bidang sport science. Yang mungkin bisa manjadi inspirasi adalah Vincent Kompany, bek Manchester City dan Timnas Belgia. Kompany punya gelar sarjana  yang merupakan pelaksanaan amanat orang tuanya yang merupakan imigran dari Kongo. "Pendidikan teramat penting meski kamu sesukses apapun..." demikian pesan orang tua Kompany.  Masih banya pesepakbola yang pendidikannya lumayan tinggi, seperti Simon Mignolet (Liverpool/Belgia), Yuto Nagatomo (Inter Milan/Jepang), Andry Arshavin (Zenith St. Petersburg/Rusia), dan lain sebagainya.

Dengan demikian bisa ditarik benang merah bahwa pendidikan seseorang setinggi apapun tidak menghalangi kehidupan seseorang untuk makmur. Tidak bijak jika pendidikan formal apalagi pendidikan tinggi dianggap sebagai 'penghalang' datangnya kemakmuran dalam kehidupan seseorang. Tentu pendidikan dalam arti sesungguhnya sebagainya yang sering dijelaskan oleh Imam Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa dengan pendidikan (berilmu) maka kehidupan kita akan lebih terjaga karena pada dasarnya ilmu itulah yang membantu kita agar tetap hidup.

Barangkali ada yang ingat dengan Khairul Anwar, anak desa dari Kediri penemu jaringan 4G yang sekarang kita nikmati ? Ya, dia sekolah sangat tinggi....sampai-sampai tidak ada sekolah lagi yang bisa ditempuhnya. Demikian dia juga mengamalkan pesan ibundanya saat ayahnya wafat. Anwar sekolah sampai Jepang dan kemudan melanglang buana sampai Australia dan Ameria sebelum mendapatkan paten atas  4G adalah karena pendidikan tinggi yang disandangnya. Dia contoh cendekiawan sejati.

Jadi sekali lagi jangan khawatir. Orang berpendidikan tinggi juga bisa hidup makmur kok. Asalkan ilmunya benar-benar ilmu yang mumpuni dan bukan asal-asalan apalagi hanya tempelan saja. Mendikotomikan pendidikan tinggi dengan yang tidak untuk mengukur kemakmuran seseorang bukanlah hal yang bijak. Mencari ilmu dan mencari kemakmuran (kekayaan) memiliki esensi masing-masing yang sama-sama baik. Jika sama-sama baik maka pastinya tidak akan ada benturan jika keduanya dilaksanakan dengan optimal.

Mas Budi
Guru di Kampung

Sabtu, 01 Juli 2017

Perubahan Itu Bernama Belajar Bersama Alam (BBA)


Perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Setiap sesuatu pasti berubah dan perubahan yang hakiki adalah menuju kebaikan dalam rangka menjalankan titah agama sebagai khalifah fil ardh. Yang perlu menjadi catatan adalah dalam setiap perubahan memerlukan effort yang maksimal. Jer besuki mawa bea...demikian ujar-ujar orang tua dulu ketika seseorang mengalami proses perubahan.

Demikian halnya dengan kami. Untuk tahun ajaran 2017/2018, kami telah mencanangkan perubahan yang signifikan. Terutama yang berkenaan dengan mindset pendidikan yang meliputi kurikulum dan metode pembelajaran. Sadar bahwa untuk berperan sebagai khalifah itu membutuhkan knowledge dan skill yang mumpuni, kami telah mematok target perubahan itu jauh-jauh hari.

Adalah kurikulum yang kami redefinisi dari sekedar patokan-patokan akademik yang rigid menjadi landasan-landasan pendidikan yang luwes, luas, dan komprehensif. Juga dengan metode pembelajaran yang kami geser menjadi the real scientific method melalui Belajar Bersama Alam (BBA) yang lazim digunakan oleh kawan-kawan penggerak sekolah alam di seantero negeri.

BBA secara sederhana dapat dimaknai sebagai upaya kami mengajak ananda untuk memikirkan secara komprehensif ciptaan ALLAH di muka bumi melalui berbagai aktivitas pengamatan, mengeksplorasi, dan bereksperimen. Tentu cipataan ALLAH yang dimaksud adalah yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dilakukan untuk mengasah secara komplit talenta mereka, baik yang bersifat kognisi, sikap, dan spiritualitas.

Untuk harapan yang besar itu kami telah berupaya melakukan persiapan sedari Mei 2017 di sela-sela kesibukan bermain dan belajar bersama ananda. Segala usaha sudah dilakukan dari mulai Pelatihan Problem and Project Based Learning bersama Bu Wiwit Safitri dari MIKAZA Jakarta dan Pelatihan BBA bersama Pak Syafir dan Pak Gigih dari Bumi Manusia Consulting (BMC).

Semoga ALLAH meridhai atas ikhtiar yang kami lakukan. Allahu musta'an...










Featured post

Ahlan wa Sahlan wa Marhaban

Alhamdulillahi rabbil 'aalamin. Setelah libur yang sangat panjang, yakni liburan akhir tahun ajaran dan Lebaran 1439 H, kita semua kemba...