Senin, 23 November 2015

Sekali Lagi Soal Kurikulum!

Jum'at pekan lalu, saya kedatangan lagi dua orang calon wali murid yang hendak mendaftarkan anaknya untuk kelas 1 SD tahun depan. Ibu-ibu ini sebenarnya sudah mendapatkan penjelasan saya pada hari Kamis sebelumnya. Entah mengapa dia datang lagi, bahkan dengan mimik muka yang sangat serius.

Setelah basa-basi sana-sini, terungkaplah bahwa kedatangannya kembali ke sekolah untuk 'klarifikasi' soal kurikulum yang digunakan di Lebah.

"Saya sebenarnya sudah OK pak! Cuma itu lho, ada yang bilang kurikulum sekolah Bapak tidak jelas. Nanti tidak bisa SMP", cetusnya.

Oalaah..masalah itu lagi!

Sekali lagi saya bahasa soal ini!

Di negeri kita ini, cuma ada dua kurikulum yang berlaku, yakni milik Kemendikbud dan Kemenag. Kurikulum Kemenag pun sebenarnya sedikit banyak mengacu pada Kurikulum Kemendikbud yang memang jadi standar utama. Jadi, tidak mungkin ada kurikulum lain selain dua itu. Kurikulum internasional ? Ya, ada memang, tetapi yang boleh menggunakannya adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh kedutaan-kedutaan asing di Indonesia untuk kepentingan warga negara mereka. Oleh karenanya, yang dinamakan sekolah internasional adalah sekolah-sekolah milik kedutaan asing dan bukan sekolah-sekolah yang mengklaim dirinya sebagai sekolah internasional karena dalam undang-undang tidak dikenal istilah sekolah internasional.

Sekolah-sekolah di Indonesia harus mengacu pada dua kurikulum di atas, tentu bergantung pada izin operasionalnya. Apakah di bawah naungan Kemendikbud atau kemenag. Pada tataran teknis dan dalam konteks kearifan lokal, sekolah-sekolah diizinkan mengembangkan kurikulum yang distandarkan oleh pemerintah. Jadi, akarnya tetap pada kurikulum nasional Indonesia dan tidak bisa berdiri sendiri.

Sebagai contoh, pada KTSP 2006, Standar Kompentensi Lulusan (SKL) untuk mata pelajaran PAI bagian Al Qur'an adalah hafal surat Al Ashr. Saya yakin ini terlalu mudah untuk anak-anak yang akar agamanya sudah kuat, makanya perlu dikembangkan. Kondisi ini berlaku untuk mata pelajaran lainnya.

Pada tahapan pembelajaran, sekolah sangat dibebaskan untuk mengembangkan berbagai metode. Tidak heran kemudian muncul konsep-konsep pembelajaran baru termasuk yang dikembangkan oleh sekolah alam termasuk kami. Tidak sama ? Jelas, karena kami memang melaksanakan metode belajar yang selama ini 'dijauhi' oleh sekolah-sekolah konvensional.

Konsep-konsep pembelajaran yang dikembangkan pun tidak asal muncul. Ada dasar ilmiahnya, bahkan ruhaniyahnya. Sebagai contoh, perhatikan ayat berikut ini :

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)". (Ar-Ruum: 42)

Jelas itu adalah perintah untuk berkelana di alam raya yang ALLAH anugerahkan kepada kita sebagai media pembelajaran. 

Belum lagi konsep-konsep pembelajaran yang didasarkan oleh para ilmuwan, baik Timur maupun Barat, seperti Ibnu Sina, Ikhwanu Shafa, Khalifah Al Ma'mun, sampai teori Jean Piaget atau yang paling tenar saat ini adalah Taksonomi Bloom.

.....bersambung


Selasa, 17 November 2015

Belajar Adalah Suatu Perjalanan dan Bukan Sebuah Perlombaan


Kemarin siang, saya pikir sekolah sudah mau tutup. Pada jam 13.30 biasanya anak-anak sudah pulang semua. Tetapi kemarin ada yang tersisa, satu siswa muslim kelas 2. Setelah tanya sana-sini, ternyata anak itu belum pulang karena belum makan siang. Dia belum makan siang karena menu makanannya ada ikannya. Ternyata dia tidak suka ikan!

Maaf saya koreksi pernyataan di atas. Dia BELUM suka ikan dan bukannya tidak suka. Lho kok bisa? Ini jawabannya : setelah saya amati, ternyata dia sedang berusaha mencoba menu makan siangnya yang sedari tadi belum dicicipinya. Tentu dengan susah payah dan berbagai cara!

"Ini sih mending Pak.....", jelas gurunya.
"Dulu dia tidak makan sama sekali jika menunya ikan...", sambung gurunya menerangkan alasan mengapa dia harus tetap makan siang di sekolah.
"Gak apa-apa Pak. Biar dia belajar makan apa aja dan taat aturan..!" tambah ibunya yang ternyata juga ada dan setia menunggu anaknya selesai makan.

Dari catatan sekolah, anak ini awalnya memang sangat pemilih soal makanan. Jika bertemu menu ikan dalam makanannya, pasti ditolaknya atau dibuang diam-diam saat gurunya lengah. Tapi itu dulu.
Sekarang beda. Anak itu tampak sekali berusaha untuk menyukai ikan. Tidak mudah dan enak memang. Tapi usahanya tampak sekali terlihat. Hasilnya ? Meski belum suka ikan sepenuhnya, dia sekarang tidak terlalu bermusuhan dengan ikan.

Sekali lagi terbukti jika belajar adalah sebuah perjalanan. Lama dan panjang. Namun, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan sampai di tujuan. Namanya juga perjalanan, pasti ada onak dan duri yang menjadi hambatan. Pasti juga terdapat gangguan dan ancaman yang kadang membuat perjalanan itu melambat.

Tetapi, bukankah kita dididik untuk meyakini bahwa setiap kesulitan itu selalu disertai dengan kemudahan. "..inna ma'al 'usri yusran..." demikian ALLAH SWT memberikan pelajaran melalui kitab-Nya yang mulia. Di sekolah ini, kami pun meyakini bahwa tidak pernah ada orang bodoh. Yang ada hanyalah orang malas. Jadi rasanya kesuksesan itu sebenarnya sedang menanti anak-anak kita, jika perjalanan itu bisa dituntaskan tiap tahapnya.

Pak Budi
Tukang Kebun Sekolah

Featured post

Ahlan wa Sahlan wa Marhaban

Alhamdulillahi rabbil 'aalamin. Setelah libur yang sangat panjang, yakni liburan akhir tahun ajaran dan Lebaran 1439 H, kita semua kemba...